Struggling with (Long Distance Marriage) LDM

Its never been easy..

Sudah 3 bulan saya menjalani jarak jauh dengan kluarga, rasanya memang tidak pernah mudah.

Saya sudah berusaha enjoy dan menikmati kata “mumpung” seperti saran rekan-rekan saya.. “puas-puasin” mumpung ga repot sama anak-anak.. tapi ternyata tetap bukanlah sesuatu yang mudah bagi saya.

Dulu salah satu petunjuk yang meyakinkan saya untuk menikah adalah kami bisa berada di satu kota yang sama, jika seandainya saat itu saya tidak diterima bekerja di Jakarta dan harus benar-benar pulang dan bekerja di kota kelahiran saya, mungkin saya tidak akan mau menikah dengan si mas. Buat saya, hidup terpisah seperti ini tetaplah tidak enak. Ada yang kurang dibalik kesibukan saya, keceriaan anak-anak dan rewelnya suami..

Saya salut dengan banyak sahabat saya yang sanggup menjalani pernikahan jarak jauh bertahun-tahun.. bahkan ada yang bilang, katanya sudah biasa.. ada yang terpisah benua 8 tahun lamanya, ada yang terpisah pulau bertahun-tahun pula..

Saya aja 3 bulan beneran ga bisa konsen, mau belajar inget anak2, mau makan inget anak2, apalagi kalau hari libur, sedih sekali biasa menghabiskan waktu bersama, berkumpul..

Ternyata bahagia itu sederhana, dapat berkumpul bersama keluarga dalam keadaan apapun adalah sebuah nikmat yang tak bisa kita dustakan.. bener kata orang tua jaman dulu, “mangan ra mangan sing penting kumpul”

Dulu jaman masih pedekate memang kami sudah terbiasa dengan LDR jogja jakarta, tapi masa – masa itu tak seberat setelah menikah, tanpa ada rutinitas yang hilang..

Melihat foto anak-anak yang 3 bulan saja banyak sekali perubahan berarti, rasanya saya tak sanggup menahan untuk berjauhan bertahun-tahun tanpa mereka, rasanya jauh lebih sulit daripada LDR dengan pacar atau suami.

Si sulung sudah semakin besar, udah bisa jadi temen curhat. Apalagi kalau waktu bicara di Skype si kakak sudah mulai bertanya “bunda ngapain aja sih, kok gak pulang2?”

Ya Allah berilah kelancaran untuk semuanya, 3 bulan lagi mereka akan menyusul bunda di sini.. semoga semua lancar ya.. amiin..

2 thoughts on “Struggling with (Long Distance Marriage) LDM

  1. jujur, aku merinding bacanya, Mbak. Hampir nangis. Aku bisa rasain gimana perasaan mbak maupun anak2 yg pasti sangat merindu satu sama lain. Semoga Allah mudahkan semuanya ya mbak, dan bisa segera dipertemukan kembali sebagai satu keluarga yg utuh, tidak terpisah jarak dan waktu lagi. Aamiin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s