50

invest apartemen

Beberapa temen kantor ada yang menjadi korban mati listrik di setiabudi, huff untunglah aku udah pindah ke bintaro… hehehe… dan issue kapan listrik normal kembali belum dapat dipastikan, jadi masih simpang siur.

Gara2 itu, seorang teman bersama seluruh teman penghuni di tempat kosannya punya ide untuk menyewa sebuah apartemen, di setiabudi residence, dengan harga 175ribu permalam, atau di apartemen kuningan, dengan harga $65 per hari.

Wow lumayan juga ya, dari sisi konsumen kayaknya lebih murah kalo dibanding dengan menyewa kamar hotel semalam, tapi harga segitu cukup menguntungkan juga bagi pemilik apartemen.

Dari hasil ngobrol2 sama temen2, jadi kepikiran nih, kayaknya punya investasi apartemen di segitiga emas bole juga yah.. Waktu datang ke pameran properti bulan februari yang lalu, di The 18th Residence Taman Rasuna punya Bakrie ini harga nya masih ada yang 300-500 jutaan . Itung2 sama kayak investasi beli rumah kan? Tapi beberapa pengalaman saudara, kalo nyewain rumah biasanya penyewa ga tanggungjawab, kebanyakan rumah jadi rusak, sehingga beban perbaikan yang ditanggung pemilik jadi makin tinggi, renov sana sini sepeninggal si penyewa.

Hmmm… mungkin ada yang punya pengalaman?

Advertisements
43

Skrinsyut Rumahku

Beberapa waktu yang lalu banyak yang minta skrinsyut rumah kami, tapi sengaja lom ku porsting karena masih belum sempet ngepoles rumah, jadi sekalian aja setelah dipoles biar kliatan gantengnya 😛

Rumah asli sebelum dipoles

Rumah baru setelah dipoles… tuu makin ganteng kan 😛

7

Hanya Orang Gila Yang Mencari Furniture di Malem Minggu

Long Weekend libur hari paskah kemaren, aku dan suami menghabiskan waktu buat jalan2… tappii, bukan jalan2 ke mall. Kami jalan2 cari furnitur buat ngisi rumah.

Berhubung rumahnya ga gitu gede, jadinya pengennya nyari furnitur juga yang kecil2 aja, biar rumahnya ga jadi makin sempit.

Waktu bertandang ke rumah tetangga- yang tinggal di rumah itu sejak tahun 1999 dan punya 2 anak balita – dengan ukuran rumah yang sama seperti rumah kami, kami heran kenapa itu rumah jadi terasa sempit sekali.
Mainan anak2 dimana2, sofanya buesar2, meja tamu, meja makan, kulkas, TV, tumplek blek di ruang tengah. Trus di sana juga kami lihat, masing2 ruang dipisahkan dengan korden yang warnanya mencolok. Hadddduuhh… jadi krasa sumpek sekali rumahnya.

Karena itulah kami pengen cari furnitur yang imut2 aja, biar rumahnya masih kliatan lega. Nah, dari hasil survey ke toko2 furniture yang menjual barang pabrik, ternyata susah sekali mencari furniture yang kecil2 😀 semua ukurannya rata2 standar, dan sepertinya memang terlalu gede buat rumah kami.

Hingga sampai ke plaza mebel di jl. fatmawati. Malem minggu suamiku tiba2 punya ide untuk menjelajahi jl. Fatmawati untuk melihat2 mebel. Dan ternyataaa… nyampe sana jam 6 udah banyak yang tutup 😛 Pas di plaza mebel begitu kita parkir, eh yang punya toko dah siap2 tutup 😛

Aku bilang ke suamiku : “wacks.. mas ga salah nih?”
Jawab suamiku : “hahahaha… hanya orang gila yang menghabiskan malam minggunya buat nyari furnitur, orang lain tuh malem minggu ke mall, nonton, pacaran, lah kita malah capek2 keliling jakarta nyari furnitur”
Aku bingung : “Lah… waktu yang enak justru malem2 jhe, inget kan waktu kita nyari kulkas dan lemari baju dulu, siang2 bolong kepanasan gitu.”

Siang salah, malem salah. Jadi? yang bener gimana sih?
hehehe… mosok iya kita orang gila 😛

Kesimpulan saya : “Jangan Belanja Furniture Malem Minggu”

the picture was taken from http://www.etoon.com

9

Risk Taker

Mengambil rumah di bintaro jaya ini adalah salah satu langkah besar yang secara nekat kami lakukan dengan berbagai pertimbangan yang cukup panjang.

Anak muda memang gila, lagi semangat2nya, kalo si mas bilang “trengginas” (kalo aku nyebutnya “trenggiling”, whehehe 😀 )

Mumpung usia masih muda, kami berani ambil resiko untuk berinvestasi dengan nekad berbekal kemampuan seadanya ini dengan harapan 3-4 tahun lagi aset kami ini harganya bisa bagus, sehingga keuntungan yang bisa kami dapet juga bagus. Mumpung usia masih muda juga, kami tidak dikejar2 target apapun, blum punya tanggungan apapun, biaya anak lah, kerjaan yang udah mentok lah, link2 bisnis yang udah mulai pudar lah, atau apapun itu. Jadi kami hanya berusaha manfaatkan momen ini sebaik2nya. Ujung2nya sih, memang berharap bisa punya waktu yang panjang untuk menikmati hidup.

Inilah salah satunya yang mendasari kami sangat selektif memilih lokasi rumah pertama kami. Meskipun terkesan rodo ngoyo, dan sok2an pilih2 ini itu, tapi cita2 utama kami memang untuk investasi. Dengan harapan bisa mendapat nilai tambah yang cukup bagus. Warisan insting wirausaha dari ibu mulai bekerja, tuing… 😉

Untuk membeli rumah memang butuh insting yang agak2 beresiko. Dalam prinsip perdagangan,bukankah semakin tinggi resiko yang kita ambil, semakin besar kemungkinan kita berhasil. Dan pesan orangtua saya “kalo kamu punya kesempatan, ambil, jangan ditunda2,  beli rumah memang harus nekad”.
dan itulah ibuku, orang nya nekad 🙂 like mother like daughter, hehehehe 😀

2

Kenapa Memutuskan Rumah Second ?

Rumah yang kami tempati ini adalah rumah second yang dibangun oleh developer sekitar tahun 1999, Kemudian oleh si pemilik pertamanya dibangun lagi pada tahun 2005.

Secara fisik cukup bagus, bangunannya cukup baru, atapnya dibongkar/ganti baru semua karena rangka kayu dari developer sudah lapuk semua, posisinya ditinggikan juga sehingga sirkulasi udara lebih bagus, yang setengahnya adalah bangunan rumah lama, tapi sudah banyak diperbaiki secara struktur.

Sebelumnya kami sudah pernah ke lokasi, melihat secara langsung bangunan rumah yang sedang digarap oleh developer. Dan kami juga melihat beberapa rumah tahun 2003 yang masih standar, belum dirombak sama sekali oleh pemiliknya. Beberapa alasan yang membuat kami nggak sreg mengambil rumah2 itu antara lain :

  1. Harga nya sudah mencapai 300 jt ke atas untuk luas tanah 100 m2
  2. Untuk rumah baru harus indent dulu selama 20 bulan (lumayan juga kan nunggunya, bisa ngabisin tabungan buat bayar kos 😦 ga bisa langsung ditempatin)
  3. Biaya PPJB (uang muka yang harus segera dibayar, dan pasti tak dapat diambil kembali) adalah sebesar 5 juta –> ngerii juga kan, kalo kenapa2, dan DP harus dibayar dulu segera setelah uang muka, hanya dikasih waktu 3 bulan
  4. Lokasinya rumah baru tentu lebih jauuuuuh lagi ke pusat kota
  5. Kualitas bangungannya belum terbukti tahan dan berkualitas, karena masih baru penampakan luarnya pasti bagus, tapi kita kan nggak tau 4-5 tahun yang akan datang
  6. Lingkungan nya belum terbentuk, sehingga kita ngga tau tetangga2 kita nantinya bakal punya karakter seperti apa
  7. Rumah asli yang dibagun developernya tahun 2003, sekarang sudah retak2, dan retak2nya parah, saya sudah lihat sendiri, sampe bolong gitu dindingnya 😦

Nah, karena kami udah liyat2 di sekitar situ, dan kami sudah mulai bisa menebak pasaran harganya makanya kami pilih rumah yang kami tempatin ini.

  1. Rumahnya secara fisik lumayan bagus, jadi kami ngga perlu pusing mikir renovasi lagi
  2. Kamarnya ada 3, mencukupi sampe anak2 besar, atau ada bapak ibu mau menginap.
  3. Kamar mandi ada 2
  4. Bangunan sudah 2 Lantai
  5. Tidak ada sekat di ruang tengah, jadi meskipun rumah kecil, tapi keliatannya ngga sumpek
  6. Atapnya tinggi, sehingga sirkulasi udaranya cukup bagus
  7. Pemiliknya dosen UGM, hehehe jadi secara personal hubungannya cukup baik, karena secara psikologis ada hubungan sejarah dan latar belakang 😀
  8. Lokasi nya lumayan strategis, ke stasiun sudimara cukup dekat, ke pasar juga dekat, ke jalan besar, mau naek angkot juga dekat (tinggal jalan kaki dikit). Kalo yang ini boleh dibandingkan dengan rumah2 baru yang lokasinya lebih masuk lagi ke dalam.
  9. Pintu tol Pondok Aren juga langsung menuju sektor IX.
  10. Sebelumnya kami pernah menawar rumah di sebelahnya, yang masih 1 lantai, 2 kamar tidur dan 1 satu kamar mandi, dengan atap yang masih rendah, harganya sudah diatas 300 juta juga. Jadi kami mantap menawar rumah yang kini kami tinggali dengan harga di bawah 300 jt.

Referensi yang menarik tentang minusnya BinJay :

5

first day at home (3)

jam 05.00 sarapan pagi, bikin indomie ama milo. Yuhuii memerawani komporku nih, senengnyaa…

jam 06.11 tet kami udah siap berangkat. Ngeeng, ngeeeeng, oups, “mas tetangga kita dah pada berangkat tuh”.
Oke kita berangkat juga, menyusul barisan pasukan merayap ke jakarta, hahaha 😀
Lewat jalan yang kemaren udah di contohin ama narpati, betull… dari rumah, set set set, nyelip kanan kiri, naek trotoar, lumayan rame, tapi ga macet banget lah.

Horeee.. jam 07.05 udah masuk senopati, sip tinggal dikit lagi nyampe kantor nih, ok satu belokan lagi.

“mm.. nda inget ga, beloknya dimana?”
“kayaknya yang ini deh mas”
“tapi kok kayaknya gada yang belok ke kiri ya nda?”
ragu ragu.. ya udah ngikut arus ajah…loh loh loh, kok abis jalannya, depan dah jalan gede
ups… waaaaaaaaaa…. bener ternyata yang tadi itu beloknya 😦
“haduh maas, gimana baliknya, ini kan satu arah”
“tenang nda masih keburu kok”
“ini dimana, haduh, kanan apa kiri?”
“horeee.. kita muter lewat gatsu”

Alhamdulillah nyampe juga… masih 07.20 hehehe… untung tadi berangkatnya di-pagi-in…
“waaaah biasanya kita masih baru mau mandi nih, abis selese sarapan, hehehe”

Besok coba agak siangan aahh, orang pintar tak boleh jatuh 2 kali di lubang yang sama 😛