Anak kita bukan milik kita tapi milik jamannya

Sepertinya pepatah ini benar. Sebagai orang tua kita tak lagi bisa membesarkan anak seperti bagaimana kita dulu dibersarkan oleh orangtua. Jamannya sudah banyak berubah. Jaman dulu tidak ada teknologi internet, jaman sekarang hidup tanpa internet seperti hidup tanpa air, bisa mati (gaya) 😀

Nah memang susah mengubah pola berpikir orang tua yang harus menyesuaikan jaman anak, karena jaman kita kecil ya semua serba mudah. Tinggal dikunci aja di rumah, anak udah gak bisa maen kemana2. Nah jaman sekarang? anak dikekep di rumah, ya malah bahaya maenan internet sepanjang hari. Merelakan anak menjadi milik jamannya memang tidak mudah, perasaan serba khawatir pasti terus menghantui. Deg2an pastinya.

Anak saya belum remaja loh, adudududuh bagaimana nanti ya kalau sudah remaja. Tapi, saat ini simpan saja kekhawatiran yang belum tentu terbukti. Anak saya itu pulang sekolah yang dicari internet, karena dia punya temen chatting sekarang. Saya dan suami tau sih siapa teman chattingnya, tapi tak henti2nya kami terus mengingatkan bahwa banyak orang jahat di internet, harus hati-hati. Dan kami tak lupa terus mendampingi mereka bermain, jadi tau apa yang dimainin, dengan siapa mereka berbicara, apa yang dibicarakan.

Ini memang dilema. Saya dulu sempat berusaha melarang penggunaan internet di rumah untuk anak2 pada jam2 tertentu, karena saya berusaha meng-encourage anak2 untuk menonton acara televisi (BBC) yang contentnya jelas jauh lebih mendidik. Tapi ternyata mereka bosan!  Mereka lebih ketagihan maen internet, duh!  Akhirnya suami mulai memilihkan alternatif mainan di internet yang lebih kreatif dan bagus untuk anak-anak. Dan tentu saja, suami juga ikut main bersama mereka, jadi kalau ada update baru mereka langsung menginfokan ke ayahnya. Tapi saya tetap menerapkan jam-jam tertentu untuk maen internet.

Saya sih bukan psikolog ya, tapi menurut saya pada prinsipnya orang tua itu harus memberikan hak anak. Hak anak itu banyak, bukan hanya fasilitas fisik saja, namun juga hak untuk diajak bicara, hak untuk disayangi, dipeluk, hak untuk dididik dan dikasih tau mana yang salah dan mana yang benar, hak untuk diberi reward saat berprestasi, dan hak untuk mengutarakan keinginannya. Saya tidak mau berpikir muluk2 nanti kalau besar mereka akan jadi apa. Yang saya inginkan saat ini adalah mereka dapatkan semua haknya di masa kecil, saya ngga mau mendzolimi mereka dengan membunuh keceriaan masa kecilnya, karena memory yang kita buat hari ini akan melekat kuat sampai mereka besar nanti. Kadang-kadang memang saya masih kelepasan memarahi anak-anak yang ngga langsung nurut kalau disuruh, misal disuruh gosok gigi malah maen terus, disuruh tidur malah bertengkar. Hmm… memang naluri ya.. gak bisa ditahan. Tapi biasanya setelah marah, saya peluk mereka, saya minta maaf dan menjelaskan kenapa saya marah, biasanya anak2 langsung luluh dan mengerti, jadi besok tidak diulang lagi. Biasanya kejadian anak-anak kena marah itu malam hari, tapi paginya kami sudah kruntelan lagi. Dan setiap pagi bangun tidur acara kruntelan dengan mereka di satu kasur adalah acara yang paling ditunggu-tunggu 🙂

Begitupun dengan minat dan bakat seninya, si kakak pintar menggambar dan makin kesini karakter nya makin kuat, tapi kami sepakat untuk membiarkan bakatnya mengalir secara natural. Kami nggak mau mempressure anak untuk hal yang satu ini. Siapa tau dia ada bakat lain yang ternyata dia lebih enjoy, jadi kami membiarkan mereka explore dulu. Si adek suka bikin film, and hey he’s only 5 years old! Kami terus berusaha memfasilitasi tapi nggak menuntut mereka untuk terus bergerak disitu dan mengoptimalkan bakatnya. Nanti ada waktunya, kalau mereka mau.

Merelakan anak menjadi milik jamannya memang sulit. Apalagi jika kita sebagai orangtua masih memiliki keinginan pribadi, impian2 masa kecil yang belum terpenuhi. Tapi kalau kita terus belajar pasti bisa. Dan anak-anak pada masanya akan memilih jalannya sendiri, yang bisa jadinya berbeda dengan jalan orang tuanya. Tapi itulah anak-anak, tugas orangtua hanyalah mengantar dan memberi pendidikan yang terbaik, sisanya, berdoa dan serahkan kepada jamannya.

Advertisements

One thought on “Anak kita bukan milik kita tapi milik jamannya

  1. ada 2 hal penting yang coba saya koment ya mba, heheh
    1. Kalo untuk saya pribadi, sejak Riski masuk SD, saya batasi dia untuk main gadget, terutama tab. Hanya boleh main kalau waktu libur sekolah saja, jika masih waktu sekolah, artinya dari senin sampai Jumat maka stop main gadget. itu rule yang saya buat untuknya, supaya apa? supaya saya gak keteteran nantinya jika suatu saat dia bettul2 keranjingan dg gadget di saat usianya sudah semakin besar.
    2. saya sangat setuju bahwa tugas orangtua hanyalah mengantar dan memberi pendidikan yang terbaik untuk anak2nya. ya, menurut saya juga demikian. orang tua bukanlah penentu masa depan anak2 mereka, tapi tugas ortulah untuk mengantarkan anak2nya meraih masa depan mereka. Toh di masa depan nanti anak2 akan menjadi apa, itu urusan sang anak dengan takdirnya, tapi sikap ortulah yang kelak akan menjadi faktor utama kesuksesan masa depan sang anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s