Kritik untuk para istri

lho kok judulnya malah kritik untuk diri sendiri.. hehehe.. ya memang..

Kali ini saya pengen nulis terinspirasi oleh kisah sahabat saya, sebut saja mbak X. Blum lama saya kenal dengan mbak X ini. Tapi sekalinya kenal rasanya bisa langsung deket banget. Akhirnya beliau ini curhat sama saya tentang rumahtangganya. hmm.. siap2 ya.. kisahnya agak rumit..

Singkat cerita dia kecewa sama suaminya, umur pernikahannya sama dengan saya, baru 7 tahun. Si mbak X ini prahara rumahtangganya telah dimulai dari awal mereka menikah, dan sampai akhirnya dia ngga tahan dengan kelakukan suaminya. Di awal pernikahan mereka, ditentang besar besaran oleh keluarga sang suami, entah mengapa nampaknya si suami ini agak keras kepala, sempat bersitegang dengan orangtuanya karena kekeuh mau menikahi si mbak X ini. Akhirnya orangtua si suamipun luluh dan mengalah.

Pada masa awal mereka menikah, si suami mengajak tinggal si mbak X di rumah orangtuanya, karena mereka belum memiliki rumah sendiri, dan suaminya juga belum mendapat pekerjaan tetap, sehingga mereka menumpang di rumah orang tua suami. Akibatnya makin buruk, cekcok menantu dan mertua makin seru. Sampai akhirnya si mbak X ini minta suaminya untuk beli rumah sendiri atau ngontrak saja, meski kecil tidak masalah. Sang suami menurutinya, dan mereka pun pindah ke rumah yang kecil tapi damai.

Kehidupan rumahtangga mereka sebenarnya cukup harmonis dikaruniai 3 anak yang lucu. Permasalahan nya hanya menantu dan mertua yang dari awal memang tidak klop. Si mbak X tidak menceritakannya dengan detail. Versi dia, si suami ini anak mama yang manja sekali, makanya orangtuanya over protektif, mungkin itu penyebabnya.

Nah, masalah kedua adalah, jika mau menikah dengan anaknya, sang mertuanya tidak mengijinkan si mbak X ini bekerja, harus jadi istri rumah tangga saja, biar anaknya terawat dengan baik. Saya rasa wajar ya, mungkin mertua khawatir anaknya yang disayang kurang mendapat perhatian dari istrinya. Si mbak X makin merasa terintimidasi dengan mertuanya, tapi dituruti saja, apa daya demi cinta katanya, padahal saat itu karir si mbak X sedang bagus-bagusnya.

Kondisi ekonomi mereka tidak bisa dibilang kekurangan juga, secara mereka sudah punya rumah dan cicilan satu mobil yang cukup bagus, dengan menghidupi 3 anak balita mereka bisa mandiri rasanya cukup mapan ya. Namun, versi mbak X mereka serba kekurangan saat ini, karena mobil masih nyicil, memang tidak ada tagihan kartu kredit, tapi dia risau dengan cicilan mobil yang memakan hampir setengah penghasilan single income suaminya. Padahal sesuai perjanjian semula si mbak X tidak boleh kerja, makanya dia resah. Akhirnya setelah didiskusikan berdua dengan suaminya, si mbak X memutuskan untuk kuliah lagi, dengan tujuan agar bisa kerja di rumah mungkin menjadi notaris atau semacamnya begitu.

Nah, akibatnya apa, uang beasiswa dari suamilah yang dipakai untuk kuliah lagi. Makin-makin lah si mbak X ini merasa kesalahan suaminya adalah mencicil mobil yang terlalu bagus. Anak-anak yang masih kecil memang belum membutuhkan dana untuk sekolah, namun sebentar lagi si sulung masuk SD artinya harus ada biaya yang cukup besar untuk sekolah anak. Si mbak X menyalahkan suaminya yang tidak wellplanned terhadap keuangan rumahtangga mereka. Dari masalah-masalah kecil ini mulailah keributan2 kecil sampai akhirnya mereka terjebak dalam kondisi yang jenuh. Karena tak tahan curhatlah si mbak X ini ke saya.

Si mbak ini cerita sepertinya dunia mau runtuh saja, saat harus bayar pembantu, bayar anak-anak ke dokter, atau mengajari anaknya belajar. Suaminya katanya tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti itu. Malah suaminya sering pulang larut malam. Akibatnya si mbak X pengen marah saja setiap melihat suaminya. Belum lagi masalah mertuanya yang kadang membutuhkan dana karena mertuanya memang sudah pensiun.

Satu hal yang saya ingat dari pesan ibu saya ketika saya menikah, kesuksesan keuangan rumah tangga itu ada di tangan istri. Ya memang kadang gerak kita serba terbatas. Tidak boleh bekerja bukan berarti mematikan kreativitas wanita kan. Inti pesan mertua apa sih? Jangan telantarkan suami dan anak-anak, begitu bukan?

Masalah ketidakcocokan dengan mertua saya memang paling takut dulu, makanya ketika ibu saya sudah memilih si mas ya sudah saya nurut saja, hehe.. gak berani berdebat, begitu juga setelah ibu bertemu dengan calon besannya, setuju katanya.. saya sudah tidak ambil pusing lagi.. nurut saja sama orangtua, siap ngga siap ya dijalani saja, karena hubungan kita akan seumur hidup dengan sang mertua. Saya paling takut dapet mertua yang tidak menyukai saya. Alhamdulillah dikasih mertua yang sayang banget🙂

Kalau menurut saya pribadi sih, untuk menyelesaikan masalah rumahtangga memang harus dikomunikasikan berdua, namun alangkah baiknya jika kita memperbaiki diri sendiri dulu. Saya juga pernah memutuskan untuk mengorbankan karir saya demi keluarga, tapi artinya tidak terus dunia menjadi runtuh saat itu dan tidak bisa ngapa2in selain nungguin gaji suami tiap bulan. Memang tidak ada yang memaksa saya saat itu untuk jadi istri di rumah, sepenuhnya keinginan saya untuk memperbanyak waktu dengan keluarga saya. Alhamdulillah ada saja jalannya. Mulai dari berbisnis di rumah, kuliah lagi sampai ngajar deket rumah. Insya allah kalau diniyatkan benar pasti ada jalannya. Wanita kan diciptakan untuk bekerja multitasking dengan kelembutan fisiknya. Tidak seperti pria yang memiliki fisik yang kuat tapi tidak bisa multitasking🙂

Yang saya fikirkan adalah bagaimana membagi tugas dengan suami, prinsip saya biarlah suami saya berkarir setinggi-tingginya, asal dengan jalan yang benar, saya biar saja mengurus yang lain-lain. Akhirnya semua urusan bagian ribet saya yang handle, sampai anggaran rumah tangga, renovasi rumah, sekolah anak dll. Suami biarlah konsentrasi dengan pekerjaannya. Yang penting dia bisa membagi waktu dan memberi perhatian untuk anak-anaknya di sela-sela kesibukannya. Dan yang terpenting selalu komunikasikan semua perkembangan kebutuhan rumahtangga dengan baik. Sudah cukup itu saja. Suami tidak merasa pusing, dan akhirnya kita juga bahagia karena tidak perlu berdebat panjang.

Ketika saya tanya sudah coba didiskusikan dengan suami mengenai anggaran rumahtangga seperti apa alokasinya? kata si mbak X ini suaminya selalu tidak mau menghitung seperti itu, yang suaminya tau semua kebutuhan tercukupi. Ah ya sudahlah, tidak perlu khawatir kan mbak, toh selama ini kalian masih berkecukupan. Mengapa risau dengan hal-hal yang kecil terus menerus, alangkah lebih baik jika kita segera move on dan mencari cara kreatif menambah atau menyiasati penghasilan rumahtangga tanpa harus kluar rumah. Atau konsentrasi saja pada kuliahnya agar segera lulus dan bisa segera buka kantor di rumah.

Intinya pesan ibu saya, jadi wanita harus kreatif, harus sekolah tinggi biar ilmunya kelak berguna untuk anak-anaknya, jangan mau pasrah sama keadaan, karena keadaan itu yang kita sendiri yang membuatnya bukan orang lain…

3 thoughts on “Kritik untuk para istri

  1. hmm… pelajaran yg berharga bgt, mbak. bagi saya, dunia pernikahan itu seharusnya jgn dibikin ribet, asal bisa saling ngerti dan memahami, saya bisa ngomong begitu krn memang blum nikah, jadi asal kasih pendapat aja. gatau ya kl misal nti udah nikah, apakah prinsip “Saling” tadi bener2 bisa diterapkan dlm kehidupan pernikahan or ga, bismillah aja. mksh sharingnya mbak…..

    • betul sekali.. dan intinya adalah mengalah bukan berarti kalah, demi kebaikan bersama selalu ada jalan tengah, wanita lebih kreatif untuk hal-hal seperti itu

  2. setuju mba, dalam pernikahan ada yg harus lebih dipriorotaskan dan banyak kompromi. saya masih mimpi ini itu tapi disesuaikan dengan kebutuhan dan kepentingan keluarga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s