Menikmati hidup tenang di negara yang beradab

Tulisan ini dibuat bukan untuk mencaci maki dan merendahkan negeri saya tercinta, namun saya ingin menulis betapa kagumnya saya dengan keelokan pribadi di kota kecil  yang maju ini.

Saya terkagum kagum saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini. Kota York memang indah, terkenal sebagai salah satu kota tujuan wisata. Kotanya memang kecil, tidak banyak gedung bertingkat disini, yang ada hanya kastil kastil peninggalan jaman kerajaan. Transportasinya pun tidak ramai, penduduk juga tidak sepadat di kota besar. Namun, untuk biaya hidup tergolong sedikit mahal, tapi masih masuk akal.

Pertama dari segi kerapian kota, saya takjub sekali melihat begitu rapinya kota ini, kok bisa ya pemerintah mengatur pembangunan serapi disini. Semua bangunan bisa sama, dengan jalanan yang tidak berlubang.

york

Yang kedua dari sisi lalu lintasnya, bisa lho mereka tertib sekali dengan rambu lalu lintas, yang namanya simbol “give way” berlambang segitiga itu di sini bener2 give way, artinya yang melihat lambang itu akan berhenti dan memberi jalan pada kendaraan yang melintas dari arah yang lain, menunggu hingga kosong baru dia akan jalan.

Yang ketiga kekaguman saya adalah masalah antrian, saya suka lupa kalau saya adalah orang yang datang pertama di halte untuk menunggu bis, biasanya karena keasyikan maen hp bisnya tiba2 datang dan ternyata sudah banyak orang di belakang saya. Nah waktu saya akan naek ke atas bis, saya persilahkan orang-orang tua yang duluan masuk, tapi mereka tidak mau, karena saya yang duluan mengantri di situ, mereka mempersilakan saya masuk duluan sambil tersenyum. Dan selanjutnya di dalam bis pun demikian, bangku priority seat benar-benar berfungsi sebagaimana mestinya, jika ada orang lansia yang masuk atau orang hamil mereka secara otomatis akan mengosongkan bangku prioritas dan membantu sesama penumpang untuk duduk dengan nyaman.

Yang keempat, dan ini adalah kebiasaan baru yang saya baru belajar di sini, semua pintu di sini yang tidak otomatis dipasangin semacam engsel di atasnya biar menutup sendiri. Nah, disini semua orang yang melewati pintu itu otomatis akan menahan pintu agar orang di belakangnya tidak perlu menarik pintu lagi. Ini membuat saya terkaget2, betapa pedulinya mereka dengan orang lain. Otomatis saya jadi mengikuti kebiasaan mereka, saya selalu menengok ke belakang jika akan membuka pintu, dan berusaha menahannya agar orang di belakang saya tidak perlu bersusah payah membuka pintu lagi, dan juga biar saat dia lewat pintunya tidak tertutup. Selanjutnya mereka akan mengucapkan terimakasih. Dan tidak pernah bosen kata itu saya dengar. Dimana-mana orang mengucapkan terimakasih dan maaf.

Yang kelima, saat turun dan naek bis, orang disini selalu menyapa sopir dengan baik. Setiap naek mereka selalu tersenyum dan bilang “morning” atau “hello there”, lalu saat turun mereka akan bilang “bye” atau “thank you”. Akibatnya sopir bisnya jadi sangat sangat ramah dan selalu tersenyum sama penumpang.

Namun, mungkin ini karena York kota kecil yang masih original dengan penduduk aslinya. Hal yang berbeda sangat saya rasanya saat berada di kota besar seperti London, Birmingham dan Leeds. Karena banyak sekali imigran di kota besar, kehidupan masyarakat di kota-kota itu tampak terlalu keras dan cuek. Buat saya agak kurang nyaman, meski fasilitas lebih lengkap dan biaya hidup relatif lebih murah. Mungkin begitu rasanya tinggal di pelosok desa di Indonesia. Saya rasa ini bukan karena budaya bangsa, namun lebih karena tuntutan hidup pada suatu masyarakat sosial. Saya anak daerah, yang hidup di kerasnya kota Jakarta, jadi saat ke York terasa sekali seperti saya pulang kampung dan menikmati indahnya asli kebudayaan masyarakat yang tenang dan damai. Rindu Indonesia seperti ini. Saya rasa Yogyakarta dahulu juga seperti ini. Saya masih ingat saat tahun 1990 kakak saya berkuliah di Yogyakarta. Masih banyak sopir bis dengan blankon dan orang-orang menikmati jalanan dengan sepeda.

6 thoughts on “Menikmati hidup tenang di negara yang beradab

  1. ih merinding bacanya. bener2 kota yg indah, mbak, jadi inget sama pilem Mr. Bean yg pd saat ia mau naek bis, supirnya begitu ramah. mungkin spt itu ya yg mbak alami di sana. dan bener juga, karena tuntutan hidup, di mana mereka hrs bersaing satu sama lain, hrs menyikut jika tak ingin disikut, hingga membuat ‘warga’ kota seolah lebih sangar dan keras ketimbang penduduk asli ‘desa’ nya… jadi pengen ngalamin langsung deh🙂

    • iya, dan aku inget dulu kota yogya rasanya juga seramah ini, menarik sekali.. ayo kesini.. pilihan untuk tempat sekolah memang sebaiknya bukan di kota yang crowded agar bisa benar-benar menikmati hidup🙂

    • banget mbak, dan yang saya heran, mereka bisa menjaganya meski sudah berabad2 umur kota tua ini, sama sekali tidak berubah menjadi kota yang hiruk pikuk

  2. Hai Nungqee.. apakabar? Balik2 mengunjungi blogmu ternyata udah di Inggris ya? Keren banget ya disana. Bersih, teratur, orang2nya juga..
    Kalau umur&rejeki bertambah, jadiin vacation destination seru juga kali ya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s