Prioritas Pendidikan Untuk Azkia

Banyak sekali alternatif pendidikan yang dijual saat ini. Semua pilihan bagus-bagus. Harganya pun bervariasi dan banyak yang “bagus” juga. Saya memang bukan ahli pendidikan, tapi saya adalah ibunya anak-anak saya, yang bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anak di usia dini. Saat ini saya bukan lagi full time mother yang bisa sepenuhnya mengontrol anak-anak. Namun, saya juga tidak kehilangan banyak waktu untuk bersama anak-anak, karena pekerjaan saya yang cukup fleksibel dan dekat dengan rumah. Awalnya saya berpikir, andai saya punya banyak waktu untuk bermain dengan azkia, sekolah TK cukup yang informal saja, misal sanggar seni, atau kursus musik dan tari, atau bahkan ngaji di masjid saja, yang penting anak ada aktivitasnya.  Namun, saya khawatir kalau demikian dia akan kaget ketika sudah saatnya masuk SD, karena tidak terbiasa dengan pendidikan formal.

Kebimbangan saya ternyata tidak berubah, sama seperti dulu saya memilih daycare untuk azkia. Fokus utama saya adalah life skill, pendidikan moral dan seni. Saya tidak mencari sekolah yang terlalu banyak memforsir anak-anak dengan pelajaran. Prioritas pilihan saya adalah, azkia bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Yup, ini adalah masalah pilihan, selera mungkin, bukan baik atau buruk.

Memang tidak ada pilihan sekolah yang sempurna, kalau mau ya bikin aja sendiri, hehe.. tapi ya kita harus tetap berdamai dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung, lhaaa opo hubungane yoo… maksudnya saya belum siap menjadi berbeda😀

Daripada bingung, akhirnya saya dan suami mulai meranking sekolah berdasarkan beberapa faktor yang kami beri bobot. Bobot paling besar adalah : lokasi, tidak boleh terlalu jauh dari rumah, transportasi mudah. Bobot selanjutnya adalah biaya. Bukannya kami nggak mau ya berinvestasi besar untuk pendidikan anak, tapi menurut saya di Indonesia biaya dan kualitas pendidikan belum berbanding lurus, jadi ya ngapain bayar mahal kalau kualitasnya sama aja. Kemudian yang ketiga adalah muatan islam. Kenapa? ya karena saya pengen apa yang dia terima di sekolah dan di rumah sama. Menurut saya, azkia belum cukup usia untuk mengenal perbedaan, maksudnya emaknya males jawab2in pertanyaan yang sulit tentang Tuhan… hahaha… ya saya memang egois :p Keempat adalah aktivitas sekolah, apakah banyak aktivitas di luar atau tidak, karena menurut saya anak TK itu harusnya sekolahnya bukan hanya di kelas, tapi harus keluar kelas, olah fisik, jalan-jalan. Bobot kelima adalah additional values sekolah tersebut (macam-macam ya yang ditawarkan masing-masing sekolah). Sama sekali saya nggak liyat kurikulum, karena buat saya isi pelajaran anak TK ya pasti sama aja.

Akhirnya kami memutuskan di sekolah TK yang ada di jalan elang. Secara jarak cukup dekat, bisa naek motor dan nggak macet! secara harga juga bersaing, ngga terlalu mahal, secara muatan lokal disana labelnya islam, kalau masalah aktivitas fisik memang kurang, secara bangunan fisiknya nyewa rumah tinggal, bukan bangunan sekolah, halamannya kurang luas, tapi its ok lah, karena ini prioritas ke-sekian. Nah yang terakhir, additional valuesnya adalah disana suka mengadakan performance, ternyata azkia suka dengan kegiatan ini, meski cuma joget2 doang di atas panggung, haha, dan satu lagi, bahasa pengantarnya full inggris. Yang terakhir ini agak ngga penting sih, cuman menurut saya itu bukan concern yang besar, bahasanya mau inggris mau arab mau indonesia ngga masalah. Itu cuman buat memperkaya kosakata azkia aja, toh kegiatannya juga cuman gitu-gitu doang, ngga ada pelajaran yang susah. Paling nggunting, nempel, nyusun puzzle, yaah bahasa inggrisnya masih tergolong gampang lah.. azkia pasti bisa ngikutin. Dan ini cocok juga kan dengan visi mimpi yang pernah saya tulis sebelumnya. Siapa tau taun depan bisa berangkat sekolah ke luar negeri, itung-itungazkia udah persiapan bahasa, hehe..   amiiin..

Azkia sudah memasuki usia 5 tahun saat ini. Banyak perkembangan atau justru kemunduran yang saya lihat pada azkia, terutama semenjak adiknya lahir. Tapi saya berharap beberapa kemunduran ini hanyalah sementara saja, karena dia berusaha  beradaptasi dengan adanya kompetitor yang memperebutkan perhatian orangtuanya.

Menurut saya di usianya saat ini, menghormati orang tua, menyayangi binatang, mengajari azkia untuk meminta maaf saat dia berbuat salah, mengucap terimakasih saat dia menerima kebaikan orang, membuang sampah pada tempatnya, membereskan mainannya, menyiapkan bekal sekolahnya sendiri, memilih baju dan memakainya sendiri, mandi dan menggosok gigi sendiri, tidak mengompol dan selalu menghabiskan makanannya jauh lebih penting daripada pelajaran berhitung dan membaca. Nah beberapa hal penting ini saya lihat sudah cukup bagus pada diri azkia sebelum adiknya lahir, begitu ada adiknya lha kok beberapa menjadi kemunduran lagi.

Saya jarang mengajari azkia membaca, tapi saya sering membacakan cerita untuknya, kenapa? menurut saya, lebih penting anak untuk cinta buku daripada bisa baca. Cinta baca bisa terbawa hingga dia dewasa. Kalau anaknya sudah cinta baca, pasti dia bisa dengan cepat mempelajari cara membaca tanpa perlu saya drill. Saya mencari-cari kegiatan yang disukai oleh Azkia, nampaknya dia suka sekali menggambar, saya selalu memfasilitasi azkia dengan alat-alat lukis, semua saya supply, dari mulai kanvas, cat air, pensil warna, crayon, kertas A3, azkia nampak menikmati sekali berkreasi dengan gambar dan warna. Selain itu dia suka bermain peran dan pentas di panggung !! huahahaha… paling lucu nih. Kebetulan sekali, di sekolahnya sering ngadain pementasan, baik internal maupun eksternal.

Pilihan saya untuk azkia ini belum tentu cocok untuk adiknya, yaahh setidaknya bisa belajar dari pengalaman. Nah, sekarang saya mulai bimbang lagi, bagaimana ya memilih SD yang cocok dengan selera saya?? hehe.. tampaknya ngga ada habisnya ya kebimbangan orangtua dalam memilihkan pendidikan yang baik untuk anaknya..

3 thoughts on “Prioritas Pendidikan Untuk Azkia

  1. kl urusan anak emang paling bingung ya mbak. aku juga gitu ama riski. beberapa bulan lalu dia pernah aku masukin ke prestasi center SGM, itung2 latihan sekolah, meskipun cuma seminggu sekali. tp kacau, awal trial dia anteng2 aja, eh pas masuk kelas dan udah daftar, dia malah nangis ga keruan dan minta pulang. akhirnya ga jd deh masup sekolahnya. ya emang sih usianya br tiga setengah thn, biar dia bereksplorasi sendiri dulu deh dg segala stuff yg dia punya. thn dpn baru mau aku masupin lg, hehehe emak2 banyak curhat tentang anak ya mbak. semoga dikasih jalan yg lancar ya ama Allah utk ngurus bocah2😀

  2. Sama mbak, untuk usia anak sy sabine yg br 4,5 thn ini. Sopan, selalu minta maaf kalo salah, bilang terima kasih, gak rewel, ga ngompol. Itu sudah alhamdulilah cukup. Sy ga menuntut dia untuk sudah bs baca dan hitung di usia dini, anak2 kan memang waktunya bermain. Saya percaya bgt setiap anak berbeda, termasuk berbeda pemahaman dan waktu. Tp semua hampir selalu bs melewatinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s