Mengapa akhirnya mantap..

I really love this post : Haruskah “kembali ke rumah”?, thanx mbak sanggita for inspiring me🙂

tulisan mbak sanggita mengena sekali, dan sudah lama saya mengendapkan pemikiran tentang itu sebelum akhirnya mengambil keputusan ini, cuman ga tau mulai darimana menulisnya, hahaha… oke, ini berkaitan dengan keputusan resign saya dari pekerjaan 8-to-5, dan akhirnya saya memilih untuk bekerja 24 jam, hehe..

bahasan tentang ibu bekerja atau FTM memang selalu panjang, dan tak pernah berakhir dengan damai, hehehe di milis, di forum, di blog, hihihi ada yg pernah ngikutin postingku yang ini?, di chatting, bahkan di obrolan santai..

Saat belum menikah, saya bahkan sempat punya prasyarat khusus buat calon suami saya, harus mengijinkan saya bekerja, saya nggak mau jadi ibu rumahan yang saat itu saya pikir akan membuat saya kehilangan potensi dan kecerdasan saya, huehehe😀 takut jadi gaptek, gak gaul, kusut, ga keren, kuno😛

Tapi ternyata setelah azkia lahir, pemikiran saya berubah seketika, saya selalu mewek ketika saya harus memerah asi di toilet kantor 3 kali sehari untuk oleh2 azkia “aah seandainya saya bisa di rumah, azkia lagi apa ya sekarang, azkia maapin bunda ya bunda pergi lagi, bunda pulang malam lagi, jatah ASIP azkia cukup nggak ya, nanti kalo azkia gak bisa bobo karena nungguin bunda pulang gimana?” dan sejuta kegelisahan lainnya yang ternyata tak hilang dengan berjalannya waktu..

Apalagi setelah azkia mulai makan, saya sudah rajin membeli buku2 resep MPASI di toko, ngumpulin resep2 dari milis, tapi tak satupun pernah saya coba, setiap malam saya pandangi buku2 itu, “az, bunda pengen bikinin sup makaroni yang enak, tapi kapan ya?”

“Saya adalah ibu anak saya. Bagaimana bisa saya membayar orang untuk mencintai anak-anak saya?” kata2 sang penulis yang dikutip oleh mbak sanggita dalam postingnya inilah yang awalnya membuat hati saya bimbang, lama untuk berpikir… berhenti atau tidak..

“Setiap pilihan berujung pada konsekuensi yang harus diterima. Ibu yang bekerja bersedih karena waktu bersama keluarga berkurang. Dan ibu yang memutuskan berhenti dari pekerjaan kehilangan jati diri yang ia peroleh lepas dari nama suami ataupun anak-anaknya.” hohoho ini juga, tajam, mengena sekali, saya ga berani jadi FTM karena takut kehilangan jati diri dan menyia2kan potensi, apalagi ibu saya kurang setuju pada awalnya..

Suami saya sampe berdenging kali ya kupingnya ndengerin saya berkeluh kesah tentang hal ini, saya pengen waktu saya lebih banyak sama azkia, saya pengen azkia kenal sama bundanya.. hehehe malah seringkali dikerjain, “dek, ini loh tukang susu nya dateng..” azkia taunya saya itu tukang susu nya, bukan ibunya, heeh? *dasar suami yang usil*

Dalam kebimbangan saya, saya memohon sama Allah, untuk diberikan jalan keluar yang terbaik, saya memohon segera didatangkan momen yang tepat untuk mengambil keputusan yang tepat, entah kapan dan apa keputusannya, saya pengen hati ini tidak gelisah lagi.

Saya banyak belajar dari ibu saya sendiri, dari mertua, dari semua sosok ibu yang saya kenal, ternyata tidak sedikit tuh, sosok wanita karir yang sukses di pekerjaannya, sukses pula kluarganya, dan tak sedikit pula yang akhirnya full time mother yang kehilangan potensi dirinya begitu saja karena 24 jam sibuk dengan urusan popok, ompol dan dapur… lama saya merenung…

Jadi saya seharusnya juga bisa dong memilih untuk sukses di karir dan di rumah tangga.. toh saya juga bekerja demi anak2 kok, kalo mereka besar nanti mereka juga akan mengerti, saya juga bisa kok mendidik dengan baik sambil berkarir, hohoho, tapi hati saya berkata lain, saya tidak tenang dengan pilihan yang itu, saya cinta sama pekerjaan saya, tapi saya lebih cinta sama kluarga saya. Dan buat apa hidup gelisah?

Tentang potensi diri, saya kok yakin ya apapun yang dikerjakan dengan sepenuh hati pasti hasilnya akan maksimal, entah di kantor, di kampus, di rumah, di bisnis, atau dimanapun juga..

dan saya pun punya kesimpulan yang sama dengan mbak sanggita “bahwa bekerja atau tidak, seorang ibu tetap bisa menjadi ibu yang baik ketika kebahagiaan dan kepuasan batinnya sendiri…tak terabaikan” hehehe.. meskipun akhirnya wujud keputusan kami berbeda😀

akhirnya alasan besar yang membuat saya begitu mantap hanya satu, karena saya egois !! saya tidak mau berkorban perasaan, saya tidak mau kehilangan momen bersama azkia, saya mau menentukan pilihan hidup saya sendiri tanpa paksaan, saya mau mengikuti kata hati saya, saya hanya ingin menjalani apa yang saat ini saya mau. Saya tidak perlu alasan “daripada membuang uang untuk menggaji baby sitter dan playgroup yang mahal” atau “segala macam Teori Kedekatan” atau “anak itu perilakunya akan sama dengan pengasuhnya” atau “kelak kalo tua akan menyesal karena terlalu sibuk dengan urusan karir” hohoho.. tidak perlu alasan2 itu, cukup ikuti kata hati saja..

Kalopun nanti akhirnya suatu saat saya ingin kembali bekerja, ya tentu saya akan ambil, saya membayangkan rasanya hidup itu akan indah kalo kita bebas dari rasa ketertekanan. Setidaknya saya sudah pernah punya waktu berharga bersama azkia kecil🙂 Tapi kalo enjoy dengan peran baru itu, yaaa… dilanjut saja, hehe..

Dan saya sudah menyusun segudang rencana setelah efektif menjalani pekerjaan FTM ini, hahaha saya ini dasarnya orangnya ga bisa diam, banyak hal yang pengen saya lakukan bareng azkia tentunya.. hhihihihi.. tunggu cerita selanjutnya ya😛

(..sampe disini dulu, mo nemenin tuan putri bobo, to be continued..)

12 thoughts on “Mengapa akhirnya mantap..

  1. Secara konsep kita banyak sepakat ya, Mbak. Hanya keputusan akhir dan bentuk pilihan aktivitas saja yang berbeda.

    Pilihan yang saya jalani saat ini, juga terus mengalami evaluasi kok. Ada pagar2 yang tidak boleh dilanggar. Jika suatu saat Wima atau Willa butuh waktu lebih banyak dengan saya – misalnya – tak segan2 saya ‘kembali ke rumah’, menjadi FTM.

    Saya memilih bekerja karena mendapat dukungan penuh, tidak hanya oleh suami, tetapi juga sudah konsolidasi dengan keluarga besar. Jadi memang setiap kondisi ibu tidak bisa apple to apple ya.

    Whatever it is, jalani setiap peran dengan sepenuh hati sajalah. Menikmati setiap detik keberadaan dengan rasa syukur dan ikhlas. Insyaallah sehat bagi emosi kita, menular ke orang2 sekitar, dan tentu saja, menambah kedekatan kita denganNya.

  2. Intinya apapun pilihan kita, mau jadi FTM atau FWM, asal dilakukan dengan ikhlas tanpa paksaan dan tekanan, pasti dapat dijalani dengan langkah ringan dan happy. Orang-orang di sekitar kita pun akan merasakan aura kebahagiaan dan ketentraman itu🙂

    Dari kalimat-kalimat di tulisan mbak Nungqee pun, aura kelegaan & kebahagiaan pun terasa sampai Bekasi (hehehe jarang2 ngenet dari rumah nih, mumpung Dita lagi tidur nglintek).

  3. salam kenal…saya suka banget ama postingan mbak yg ini…inspiratif…apalagi waktu masuk ke blog nya mbak sanggita…waah…ternyata ada 2 bunda hebat lagi di dunia blog ini…senang bisa mengenal anda berdua…

    dan selamat yaa…sudah bisa menentukan ‘langkah’ dengan hati mantap…

    • hihihi iya mbak moga2 bermanfaat ocehanku disini :p
      blog yang saya rujuk itu juga jadi favorit saya sekarang, sejak bliau makin canggih nulisnya, ..
      salam kenal juga ya mbak😉

  4. salam kenal mba, lama banget ga mampir kesini ternyata sudah ada banyak kabar baru. Dalam pikiran saya juga terlintas untuk jadi FTM, hanya saja entah itu nanti akan berubah atau makin menguat saat ada si kecil.

    Pasti Azkia seneng banget sekarang selalu ditemani Bundanya ya…

  5. wow!
    jadi inget ibuQ, kerja juga, tapi guru,guru smp deket rumah…

    congrats ya mbak.orang hebat lahir dari ibu yg “hebat”. salam kenal

  6. Hi Nung, wah sekarang udah FTM dong ya😀 tulisannya bagus, menyentuh. Aku juga akhir bulan ini udah dirumah. Beruntung kamu baru kehilangan momen azkia 1 th ini, aku udah kehilangan hampir 4 th lho😦 tapi untunglah masih diberi kesempatan untuk mendampingi full time sekarang. Ternyata perasaaan kita sama, kejadiannya jg sama, bercita2 memasak dan melakukan semua sendiri tapi ternyata gak ada waktulah, capeklah, dll lah😀
    Sekarang aku bener2 diberikan waktu untuk menjadi mandiri, tanpa pembantu, tanpa ortu, it’s the real “US”.
    Have a nice day becoming FTM ya……..keep contact okay😀

    • @nirwasita :

      wuaaahh wuaaah sudah pindah ke perth ya mbak.. waduh padahal belum jadi2 mo maen kesono:(
      gudlak ya … salam buat si lucu adit.. muah muah deh.. tulis cerita2 serunya disana.. doakan bisa nyusul.. wekekeke😛

  7. Aku tetap milih kerja, coz suami dan orang tua ga ngijinin aku berhenti kerja, anakku sekarang diasuh sama neneknya dirumah ( ibuku dibela-belain ngikut aku biar aku ga berhenti kerja )

  8. Assalamu’alaikum…
    Nice writing Nung…pas banget dengan kegalauan hatiku saat ini…ciiiyeeeh…
    pada dasarnya semua keputusan akan ada konsekuensinya. Tinggal kita kuatnya menjalani yang mana…gitu kan ya?
    Selamat atas keputusan yang sudah dikau pilih jeng, semoga sukses buat being FTM nya, sekolahnya dan bisnis barunya yaaa…
    Doakan agar daku diberi kekuatan untuk memilih.

    Salam kenal Bu…
    -Bew

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s