Hampir sebulan sudah saya menikmati hari2 cuti saya. Hampir sebulan ini juga saya mulai merasakan pening kepala, karena selalu disuguhi tayangan gratisan di TV yang kualitasnya benar2 tidak mutu. Maaf kalo saya harus mengkritik tayangan tidak mendidik di stasiun televisi gratisan di negeri ini.

Semenjak saya cuti melahirkan, ada bu lek (tante) yang membantu saya mengurus azkia. Saya dan suami merasa bu lek di rumah kami cukup berjasa, karena tanpanya kami pasti akan sangat kerepotan dan kebingungan mengurus si kecil. Tapi yang namanya ibu2, tau kan acara TV favoritnya apa? yupp.. sinetron dan gosip selebritis. Jadi tiada hari tanpa sinetron dan gosip. Pagi, siang, sore, sampe malam hari, nonstop..

Saya sendiri tidak terlalu suka sinetron indonesia yang ceritanya pasti itu2 saja, bahkan beberapa (banyak) diantaranya yang menjiplak film2 asing, apalagi artisnya yang muter2 cuman tuker peran saja dari satu judul sinetron ke judul sinetron yang lain. Bukan cuman sisi cerita yang tidak kreatif, muatannya pun sangat tidak mendidik. Dalam setiap episode selalu ada adegan kekerasan, baik itu kekerasan fisik maupun ucapan. Sebagai pembelaan mungkin ada yang akan berkata “itulah realita dalam kehidupan kita”. Tapi jika kekerasan itu ditayangkan setiap jam, setiap hari, bukan tidak mungkin akan mempengaruhi perilaku hidup kita.

Selain itu, dengan adanya peran yang dibawakan oleh tokoh antagonis dengan cara berteriak2, berkata2 kasar dengan mata yang melotot tajam, berhati buruk, selalu merencanakan hal2 buruk untuk si tokoh utama, sampai kekerasan fisik, seperti tampar menampar atau mendorong hingga jatuh, membuat pemirsa merasa geram dan memancingnya untuk memaki2 si tokoh antagonis ini. Nah akhirnya keluarlah kata2 kasar juga dari para pemirsa untuk si tokoh antagonis ini, seperti “wah, kurang ajar sekali ya..” atau sekedar “duuh sialan banget sih”.. astaghfirullah…

Belum lagi gosip selebritis yang beritanya nggak penting banget, dan selalu diulang2 terus di semua stasiun TV. Urusan rumah tangga oranglah diubek2, urusan harta oranglah.. so what gitu loh, grrrr… *gemezz :(

Saya sendiri kalau bu lek sudah mulai mengganti channel dengan acara TV favoritnya itu, saya tidak mungkin tiba2 mengganti channel lagi, karena rasanya tidak sopan, meskipun ini rumah saya sendiri. Jadi saya menyibukkan diri dengan beraktifitas lain, yang paling sering masuk kamar, dan mulai ketik mengetik atau sekedar membaca buku. Tapi yang namanya rumah saya cuman segitu, jadi yaa.. suara TV kedengaran dari ujung ke ujung, tetap saja saya harus mendengarkan orang tereak2 di TV. huffhh… pusing kepala saya :(

Ini menjadi dilema buat saya. Azkia bagai selembar kertas putih yang akan mulai merekam apa saja yang ada di sekitarnya. Dulu saya pengen sekali bisa mendidik anak saya dengan cara yang seideal mungkin, termasuk memperdengarkan & memperlihatkan hal2/contoh2 yang baik sejak dia dalam kandungan hingga dia lahir. Tapi sekarang, bu lek yang selalu setia berada di depan TV sambil menggendong azkia tidak bisa saya cegah. Memang kadang azkia saya bawa ke kamar dan mulai saya ajak mengaji, tapi kalau dia harus di kamar terus kasian juga, sumpek. Saya sedih sekali.. sangat sedih.. Saya selalu berharap bisa selalu memberi rekaman yang terbaik untuk anak saya, tapi apa boleh buat :(

Saya sudah melihat pada keponakan2 saya sendiri, salah satu keponakan saya namanya Faza, ibunya suka sekali nonton sinetron2 gak mutu itu sejak dia masih kecil, begitu dia berumur 4 tahun, apa yang diucapkannya kepada sang ibu, ketika ibunya mencoba menasehatinya? “ummi jahat, ummi nggak sayang sama Faza, faza benci sama ummi” wups.. ucapan apa itu?? rekaman dari mana itu? Dan setiap kata2 bentakan kepada sang ibu menjadi makin bervariasi dari hari ke hari. Awalnya kami sangat heran, siapa yang mengajarkan kosa kata seperti itu?

Ini berbeda sekali dengan keponakan saya dari kakak pertama saya yang cukup selektif. Saya bisa melihat 7 anak dari kakak pertama saya begitu menyenangkan, tutur katanya lembut, dan tidak ada yang berani membentak orangtua. Entah ini benar pengaruh TV atau bukan, yang pasti saya pengen banget bisa mendidik azkia menjadi pribadi yang lembut tutur kata dan mulia perilakunya. Memang contoh yang diberikan oleh orangtua adalah yang paling gampang ditiru oleh sang anak, tapi kalau orangtuanya justru lebih banyak di luar rumah? siapa yang dia contoh?

Ya Allah kami sadar, azkia adalah anugrah sekaligus amanah yang besar dariMu, Kami mohon berilah kemudahan dan bimbinglah kami untuk bisa mendidiknya menjadi anak yang sholihah, yang taat kepadaMu Ya Allah, mohon berilah kami petunjuk agar bisa mengantarnya ke jalan surgaMu Ya Robb..