Sebagai calon nasabah KPR Bank Permata, saya beberapa kali mengalami kesulitan saat menghubungi marketing KPR yang menghandle permohonan saya. Termasuk adanya IMB tambahan yang harus saya serahkan sebagai syarat2 administrasi KPR.

Awalnya marketingnya mengatakan “Bu, kredit anda bisa turun, tapi mungkin ditahan sekitar 10-20 % sampai IMB yang baru diserahkan”

Dari kata2 marketing nya itu bisa dong saya simpulkan bahwa dana yang 80-90% bisa segera cair.

Trus saya nanya lagi “Trus, detail teknis nya gimana yaa? “
Sambil dilempar2 untuk menghubungi notaris juga, akhirnya marketingnya minta bukti pengurusan IMBnya untuk dikirim.
beberapa hari saya hubungi jawabannya selalu sama : “Maaf bu, masih saya tanyakan ke bagian legalnya, nanti saya kabari”

Kemudian, setelah saya jengkel karena menunggu terlalu lama saya kejar lagi si marketingnya. saya tanyakan keputusannya “Jadi gimana pak, jawabannya ?”
Dengan sangat menyedihkan dia menjawab “Maaf bu, ternyata ibu harus menyerahkan IMB yang baru dulu baru bisa akad jual beli”

Haahhh???

Saya kehilangan kesabaran sama si marketing itu “Loh, kok bisa gitu sih pak? Bukannya dulu katanya bisa?”
Marketing : ” Iya, maaf bu, tapi dari legalnya bilang begitu”

Hwadduuh… bisa gawat kalo nunggu IMB yang ga pasti itu :(

Untung suamiku punya teman di KPR Permata, bisa tanya siapa bosnya si marketing itu. Okeh, singkat cerita akhirnya saya bisa dapet nomer directnya Ibu manajer KPR.
Sungguh tak disangka, pelayanan beliau memuaskan sekali. Cepat, tanggap dan solutif.

Saya (S) : “Maaf bu, saya mau menanyakan kalau saya harus menyerahkan IMB tambahan, katanya dana nya ditahan sekitar 10-20 %, apa benar begitu bu?”
Manajer KPR (M) : “Ya, betul begitu”
S : “Berarti bisa dong, akad dulu baru IMBnya menyusul?”
M : “Oh iya iya bu, bisa”
S : “Soalnya kata marketingnya kemaren dari bagian legal tidak bisa bu”
M : “Oh, bisa bisa bu. Nanti saya usahain deh bu, saya bantuin.”
S : “Kalau terlalu lama, nanti penjualnya bisa membatalkan transaksi bu”
M : “Iya bu, saya faham. Nanti saya bantu bu. Ibu bisa saya hubungi di nomer brapa ya?”

Sip lancar…
Beberapa menit kemudian beliau nelpon lagi

M : “Oke bu, saya sudah menghubungi notarisnya, semuanya OK, ibu tinggal bayar pajaknya, trus kita set akad jual belinya mau kapan bu?”
S : “wah, trimakasih bu, kalau bisa secepatnya deh, dalam minggu ini ya?”
M : “Oke deh, kalau gitu saya set Jumat pagi yaa, di kantor sudirman? Untuk retentionnya, maksimal saya usahakan nggak lebih dari 10 juta deh bu”
S: “Oke, setuju !”

Selesai deh proses bargainingnya….

Terbukti bisa lebih cepat dan mudah kalau lewat atasan. :)

Mungkin cara ini juga bisa dicoba untuk menyelesaikan kasus pengurusan IMB yang lama seperti ditulis Suamiku dalam blognya, tapi apa swasta ama pemerintah emang beda style ya ?